Islamic Indeks Pembangunan Manusia

Islamic Indeks Pembangunan ManusiaIslamic Indeks Pembangunan Manusia. Pada laporan Index Pembangunan Manusia (IPM) 2011 yang diliris United Nation Development Program (UNDP) pada 2 November, Indonesia ternyata hanya mendapatkan angka 0,617 dan merosot jauh ke posisi 124 dari 187 negara. Padahal, IPM pada 2010 masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara, naik 3 peringkat dari sebelumnya 111 pada 2009.

Islamic Indeks Pembangunan Manusia. IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Dengan peringkat seperti di atas, di lingkup Negara-negara ASEAN, Indonesia hanya menempati posisi keenam, di bawah Singapura (26), Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (103), dan Filipina (112). Indonesia hanya lebih baik ketimbang negara-negara terbelakang di Asia Tenggara seperti Vietnam (0,593), Laos (0,524) Kamboja (0,523), dan Myanmar (0,483).

Khusus untuk sektor pendidikan, data menunjukkan bahwa rata-rata lama bersekolah orang Indonesia di tahun 2010 hanya sekitar 5,7 tahun dan tahun 2011 hanya 5,8 tahun. Atau rata-rata hanya ‘hampir’ lulus sekolah dasar (SD). Senada dengan hal itu, Menurut data BPS 2010, 52% tenaga kerja Indonesia hanya berpendidikan SD atau tidak tamat SD dan 20% berpendidikan SMP atau tidak tamat. Artinya, 72% dari tenaga kerja Indonesia berdaya saing rendah akibat keterbatasan pada akses pendidikan. Data di atas tentu saja paradoks dengan tujuan kemerdekaan yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang termuat dalam UUD 1945. Padahal anggaran pendidikan telah mencapai 20% atau Rp246 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ada.

Islam dan Pembangunan Manusia

Paling tidak ada tiga faktor yang dijadikan tolak ukur oleh UNDP akan keberhasilan suatu pembangunan yaitu ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Ketiga unsur ini pun mendapat perhatian yang cukup besar dalam Islam sebagai faktor penting dalam pembangunan manusia itu sendiri. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kamu bangun di pagi hari dengan perasaan aman, sehat tubuhnya dan cukup persediaan makanan pokoknya untuk hari itu, seakan-akan ia telah diberi semua kenikmatan dunia.” (H.R. Tirmidzi)

Namun bagi Islam, faktor manusia lah yang lebih berperan dalam sebuah pembangunan. Tentu saja yang dimaksud oleh Islam adalah manusia yang berperilaku dengan akhlak Islam, manusia yang bebas dan merdeka, manusia dengan tauhid yang bersih. Semua hal ini dapat dicapai tentu saja melalui tarbiyah insaniyah itu sendiri. Pendidikan yang menyeluruh dan bukan sebagian saja.

Sebagai khalifah (wakil) Allah SWT manusia memiliki kewajiban untuk memakmurkan bumi Allah: “Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya” (Hud: 61). Sebagai wakil, maka segala sesuatu yang ada di dunia adalah milik Allah SWT. Pemahaman ini mengantarkan manusia menunaikan hak-hak Allah sebagai pemilik utama dalam bentuk kebaikan seperti zakat, sedekah dan lain sebagainya.

Upaya pembangunan manusia itu dapat dimulai dengan peningkatan kemampuan melalui pendidikan. Ilmu pengetahuan dan Islam dipandang sebagai suatu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Pendidikan merupakan suluh penerang kehidupan sekaligus nafas peradaban. Kemajuan peradaban Islam pada masa Abbasiyah di Irak hingga Andalusia di Spanyol (abad 7 M – 13 M), berkat kemajuan ilmu pengetahuan pada masa itu. Begitu banyak ayat yang membicarakan akan keutamaan ilmu. Firman Allah:  “Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (Az-Zumar: 9). Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka ia berada di Jalan Allah sampai ia kembali” (HR. Turmudzi).

Demikian pula dengan kesehatan. Hanya manusia yang sehat jasmani yang mampu memberikan kemampuan terbaiknya untuk pembangunan. Islam sangat memperhatikan kesehatan dalam semua aspek kehidupan manusia. Baik dalam perkara ibadah: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku…” (Al-Maidah: 6), mencari rezeki yang halal dan menyehatkan (An-Nahl: 114), larangan mengkonsumsi makanan yang berbahaya (Al-Maidah: 3).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Bersiwaklah, karena itu dapat membersihkan mulut dan mendapat keredhaan Allah” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hal kemampuan ekonomi misalnya, Rasulullah SAW memohon perlindungan  jatuh kepada kefakiran. Beliau mengatakan: “wahai Allah, sungguh aku berlindung kepada Mu dari kekufuran dan kefakiran”. (HR. Abu Dawud).

Kesimpulan

Islamic Indeks Pembangunan Manusia. Pembangunan dalam Islam adalah pembangunan yang menyeluruh “at-tanmiyah asy-syumuliyah”. Termasuk dalam hal ini adalah pembangunan manusia itu sendiri. Pembangunan yang berdasarkan konsep Robbani. Konsep yang tidak hanya terpaku kepada pembangunan aspek keduniaan dan materi saja, tetapi juga aspek ruhiyah dan akhirat. Islam tidak pernah memisahkan keduanya. Konsep yang mengajak kepada keadilan dan keseimbangan antara kepentingan individu tanpa melupakan kepentingan bersama. Konsep yang menolak keras pembangunan yang hanya mengkayakan sebagian golongan kecil dan memiskinkan golongan lainnya. Konsep yang menghadirkan rasa tanggungjawab. Keseimbangan dan keselarasan antara ruh dan jasad, antara ilmu dan akhlak, akan melahirkan keberkahan yang dijanjikan Allah SWT dalam firman Nya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 96).

 

Salahuddin El Ayyubi

Bulan januari 1966 di Nigeria terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Jon Ironzi dan beberapa perwira lain yang beragama Kristen dari suku Ibo terhadap pemerintahan Abu Bakar Tawafa Balewa dan Ahmadu Bello. Keduanya adalah seorang Muslim.

Menurut catatan, pada masa kepemimpinan mereka satu suku Afrika yang beranggotakan 60.000 penduduk sekaligus pindah memeluk Islam. Tentu saja hal itu membangkitkan kebencian pada diri musuh-musuh Islam. Dihasutlah suku-suku lain yang beragama Kristen agar membunuh pemimpin-pemimpin Islam dan mengadakan kudeta yang amat mengerikan. Abu Bakar Tafawa Balewa dan Ahmadu Bello mati dibunuh dengan keji, bahkan istrinya turut dibunuh bersama dia dan rumahnya dibakar habis. Demikianlah hancurlah satu pemerintahan yang berdiri atas dasar demokrasi dan diganti dengan diktator militer.

Cerita tidak berhenti disitu saja. Berselang enam bulan dari kudeta, pemberontakan timbul kembali yang dipicu oleh dendam suku Hausa terhadap suku Ibo. Pemberontakan ini dipimpin oleh Kolonel Jacob Gowon dari suku Hausa. Jacob Gowon demi memelihara kekuasaan yang diperolehnya tetap menjaga hati golongan kaum muslimin yang mayoritas (60%) dalam negara itu. Dan kaum muslimin yang banyak dibunuh pada zaman Ironzi menyokong Jacob Gowon.

Melihat keadaan yang demikian maka penyokong-penyokong kekacauan dari luar tadi, yang sangat benci akan adanya kekuasaan Islam di negara itu, langsung menyokong suatu gerakan pemisahan diri yang terkenal dengan nama Biafra, yang meletus pada tanggal 30 Mei 1967. Tiga tahun lamanya republik boneka yang mendapat sokongan dari negeri-negeri Kristen, bahkan dari Paus sendiri mengacau-balaukan negeri itu, sampai akhirnya dapat dipatahkan dan Nigeria bersatu kembali.

Kemudian kita lihat pula bagaimana golongan minoritas Islam dikejar-kejar dan dibunuhi di Filipina. Bahkan tentara pemerintah sendiri yang diperintahkan ke Selatan buat mengembalikan keamanan, telah turut menembaki kaum muslimin dan menghancurkan masjid-masjidnya dan merampasi tanah-tanahnya.

Bahkan sebuah negara Islam yang sebelumnya tidak nampak dalam peta dunia tiba-tiba kemudian disisipkan ditengah-tengah negara-negara jazirah Arab. Malah Madinah Munawwarah sebagai tempat peristirahatan Nabi Muhammad saw mereka cadangkan masuk dalam wilayah kekuasaan mereka.

Sejak semula berbagai usaha telah diusahakan untuk menghilangkan kekuatan Islam di negeri manapuni. Dan kita kaum muslimin, yang dalam diri kita mengalir darah seorang muslim yang diwarisi oleh pendahulu kita terus berusaha berjuang mempertahankan agar Islam itu tetap menjadi sendi kekuatan bangsa ini.

Belum hilang rasanya dari ingatan mereka akan mimpi buruk Perang Salib. Dimulkan dari Angkatan Perang Salib I (1097-1099) dengan membawa lambang perang “Deus La Volts”; Demikianlah kehendak Tuhan; dan sabda Paus : “bahwasanya barangsiapa yang bersedia masuk dalam angkatan perang suci itu, akan diampunilah sekalian dosanya, baik kecil ataupun besar”, harus menelan kekalahan di hadapan pasukan Salahuddin Al Ayyubi. Demikian pula Angkatan Perang Salib II (1147-1149) dan Angkatan Perang Salib III (1189-1192) harus tunduk di depan pasukan Pahlawan Pembebas al-Quds itu.

Hari ini, kalau anda menengok perbatasan antara Palestina dan Israel ada sebuah tembok yang tinggi memisahkan bagaikan tembok Berlin yang memisahkan Jerman barat dan timur. Negara yang anda kenal dengan Israel pada masa lalu adalah wilayah milik kaum Muslimin yang akhirnya direbut sedikit demi sedikit oleh Amerika dan Rusia untuk adik tersayang Israel.

Sebagai seorang muslim kita mempunyai keyakinan, bahwa negeri itu akan kembali ketangan kaum Muslimin, lambat ataupun cepat. Negeri yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha, masjid yang dimuliakan Allah di muka bumi Nya.

Kalau anda memiliki kesempatan untuk berziarah ke sana, ingatlah bahwa saat pasukan Turki di usir dari Palestina tahun 1916 dan Inggris masuk dibawah pimpinan Marsekal Lord Elenby, keluar dari mulut si Marsekal itu : “Baru pada hari inilah berhenti perang Salib”

Atau barangkali anda sempat ke kuburan Salahuddin Al Ayyubi di Damaskus, hendaklah anda ingat juga bahwa setelah Raja Faisal di Syria kalah menerima serangan Perancis dibawah Jenderal Goureaud pada 24 Juli 1920, terloncat pula dari mulutnya : “Hai Salahuddin! Ini saya telah datang…! Apalah jawab tulang dalam kubur…!

Semoga kenang-kenangan ini membangkitkan kesadaran kita, bahwa semangat perang Salib itu masih ada walaupun dia telah berubah dalam berbagai bentuk dan rupa dan kita mesti memenangkan pertempuran itu, dengan izin Allah tentunya**

Suap Menyuap Dalam Islam

Suap Menyuap Dalam IslamSuap Menyuap Dalam Islam. Assalammu’alaikum.Saya berbahagia sekali dengan isi rubrik ini, dimana banyak masalah yang dapat saya peroleh jawabannya. Kemudian, dalam kehidupan kita sehari hari akhir-akhir ini, masalah sogok-menyogok atau suap menyuap sudah sangat merajalela. Sudah masuk ke semua lini. Menurut isu yang berkembang, hampir tidak ada lagi masyarakat yang terlepas dari bencana ini, mulai tingkatan masyarakat paling rendah hingga ke paling tinggi terlibat ataupun terpercik akibat dari kejahatan itu.

Suap Menyuap Dalam Islam. Saya ingin bertanya, apa hukum risywah (sogok) dan apa implikasinya terhadap akidah seorang muslim serta apa akibat yang timbul karenanya di dalam kehidupan bermasyarakat? Demikian, dan atas perhatian serta jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih. Wassalam

Qeisha

Jawaban :

Suap Menyuap Dalam Islam. Wa’alaikumussalam wr wb. Mba Qeisha yang dirahmati Allah, betul apa yang mba sampaikan tentang bencana risywah atau sogok ini. Ia sudah dianggap biasa dengan alasan kondisinya memang memungkinkan untuk melakukannya, juga karena tidak ada sanksi yang tegas bagi penyogok atau yang disogok. Akibatnya, budaya jelek ini merata dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi dalam strata sosial.

Suap Menyuap Dalam Islam. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke tempat orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarnya, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Maka kata Abdullah kepada orang-orang Yahudi itu: “Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu kami tidak akan menerimanya.” (H.R. Malik). Di sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara.” (H.R. Ahmad dan Hakim).

Suap Menyuap Dalam Islam. Dari dua hadis di atas, nampak jelas bahwa tindakan sogok menyogok ini masuk dalam kategori haram dan pelakunya mendapatkan laknat. Bagi seorang muslim tentu saja berusaha untuk terhindar dari melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul Nya.

Suap Menyuap Dalam Islam. Implikasi atau akibat yang bisa ditimbulkan dari budaya suap ini ditengah-tengah masyarakat tentu saja adalah kerusakan masyarakat itu sendiri. Paling tidak ada dua hal mendasar yang mengapa masyarakat kita doyan melakukan perbuatan ini: pertama; pemikiran yang berkembang sekarang ini adalah sekulerisme, asas manfaat, dan kenikmatan jasmani (permisivisme). Wajar saja kalau sekarang ini orang lebih suka kongkalingkong karena memang dikondisikan demikian. Kedua; Budaya suap menyuap dan tindakan maksiat lainnya, seperti korupsi, manipulasi, pergaulan bebas terlahir dari masyarakat yang perasaannya tidak islami, yang individunya tidak menaruh rasa benci terhadap perbuatan-perbuatan tersebut.

Suap Menyuap Dalam Islam. Masyarakat yang tumbuh dan berkembang dengan keadaan seperti ini, hanya akan membawa kepada kerusakan dan kehancuran massal. Masyarakat yang terlahir dengan akhlak untuk menyelamatkan dan mendapatkan keuntungan sendiri, walaupun harus mengorbankan kepentingan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu makan harta benda kamu di antara kamu dengan batil dan kamu ajukan perkara itu kepada penguasa (hakim) dengan maksud supaya kamu makan sebahagian dari harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188). Wassalaamualaikum wr wb. Salahuddin El Ayyubi

Hukum hadiah dari iuran?

Hukum hadiah dari iuran Hukum hadiah dari iuran? Assalammu’alaikum Ustad…Bagaimana hukumnya jika kita harus membayar pendaftaran dalam sebuah pertandingan dimana uang tersebut biasanya dipungut untuk biaya penyelenggaraan dan hadiah. Misalkan, pertandingan Voly dimana team peserta dipungut biaya 100ribu/team dengan hadiah nantinya sebuah piala tetap. Mohon penjelasan mengenai hadiah ini, karena kami takut nantinya menjadi judi. Apakah juga membeli produk makanan yang menjanjikan hadiah juga diperbolehkan? Mohon pencerahannya. Wassalam. Hamba Allah

Hukum hadiah dari iuran? Wa’alaikumussalam wr wb. Pertandingan Voly di atas adalah salah satu bentuk pertandingan yang dilarang dalam Islam. Yaitu apabila taruhan tersebut berasal dari kedua belah pihak atau lebih (uang iuran) kemudian pihak yang menang akan mendapatkan hadiah tertentu.

Hukum hadiah dari iuran? Jumhur fuqaha Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat akan pengharamannya. Disebutkan dalam Hasyiah Al-Kharsyi (10/191): “apabila setiap peserta mengeluarkan uang mereka dalam jumlah yang sama atau tidak, kemudian bagi yang menang maka semua uang itu menjadi miliknya. Maka ini tidak dibolehkan dan tidak diperselisihkan lagi”. Sebab pengharamannya tentu saja karena mirip dengan qimar atau judi yaitu dimana setiap pihak yang bertanding memiliki kemungkinan kalah atau menang. Berjudi tentu saja dilarang didalam Islam. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Al-Maidah: 90)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa sahabat Anas RA pernah ditanya: apakah kamu pernah bertaruh di zaman Rasulullah SAW? Apakah Rasulullah SAW sendiri juga pernah bertaruh? Maka jawab Anas: “Ya! Demi Allah, sungguh ia (Rasulullah SAW) pernah bertaruh terhadap suatu kuda yang disebut sabhah (kuda pacuan), maka dia dapat mengalahkan orang lain, ia sangat tangkas dalam hal itu dan mengherankannya.” (Riwayat Ahmad 13689, Ad-Darimi 2430, Daruqutni 4/301 )

Hukum hadiah dari iuran? Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab beliau “Halal dan Haram dalam Islam” memberikan komentar mengenai hadis tersebut bahwa taruhan yang dibenarkan atau suatu hadiah yang dikumpulkan bukanlah dari orang-orang yang berpacu saja atau dari salah satunya saja, tetapi dari orang-orang lainnya. Adapun hadiah yang dikumpulkan dari masing-masing yang berpacu, kemudian siapa yang unggul itulah yang mengambilnya, maka hadiah semacam itu termasuk judi yang dilarang. Dan Nabi sendiri menamakan pacuan kuda semacam ini, yakni yang disediakan untuk berjudi, dinamakan Kuda Syaitan. Harganya adalah haram, makanannya haram dan menungganginya pun haram juga. (Riwayat Ahmad 16645, Al-Haetsami 5/260).

Dan ia bersabda: “Kuda itu ada tiga macam: kuda Allah, kuda manusia dan kuda syaitan. Adapun kuda Allah ialah kuda yang disediakan untuk berperang di jalan Allah, maka makanannya, kotorannya, kencingnya dan apanya saja – mempunyai beberapa kebaikan. Adapun kuda syaitan, yaitu kuda yang dipakai untuk berjudi atau untuk dibuat pertaruhan, dan adapun kuda manusia, yaitu kuda yang diikat oleh manusia, ia mengharapkan perutnya (hasilnya), sebagai usaha untuk menutupi kebutuhannya. (Riwayat Ahmad 3756, 3757, Majma’ Zawa’id 261)

Hukum hadiah dari iuran? Adapun membeli produk yang menjanjikan hadiah apabila niatnya adalah untuk mengejar hadiah yang dijanjikan sehingga membuat seseorang itu membeli barang tersebut diluar kebutuhannya, bahkan diluar kemampuannya maka hal itu menyerupai perbuatan mengundi nasib yang telah dilarang oleh Allah SWT pada ayat diatas. Wassalaamualaikum wr wb. Salahuddin El Ayyubi

Apakah Bedanya Produk dan Akad Syariah?

Pertanyaan :

Assalammu’alaikum

Saya ingin menanyakan apakah ada produk semisal murabahah di bank syariah tapi dalam bentuk jasa, misal untuk biaya pendidikan atau pernikahan? kalau ada, itu termasuk kedalam jenis akad apa? Terima kasih..

Wassalam – Wila Yulia
Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Mba Wila yang dirahmati Allah, sebelumnya kita harus membedakan terlebih dahulu apa itu produk dan apa itu akad. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan prinsip syariah. Contohnya akad murabahah, mudharabah, ijarah dan lain sebagainya. Sementara yang dimaksud dengan produk adalah berbagai macam fasilitas yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan nasabah seperti misalnya Tabungan Qurban iB, Tabungan rencana iB, KPR iB, Pembiayaan Koperasi iB, Transfer iB, pembiayaan konstruksi iB, dll.

Termasuk pula produk pembiayaan multijas yang merupakan pola  dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. Sepertimana yang tercantum dalam Fatwa DSN-MUI No. 44/DSN MUI/VII/2004 tentang pembiayaan multijasa, Fatwa DSN No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah juga menggunakan Fatwa DSN No: 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang kafalah.

Produk pembiayaan ini dapat digunakan untuk biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya naik haji atau umrah, termasuk pula untuk biaya pernikahan. Dalam pembiayaan dimaksud, bank syariah memperoleh fee dari imbalan jasa (ujrah) sesuai dengan kesepakatan awal, yang dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk presentase.

Dalam pembiayaan multijasa ini bank syariah atas permintaan nasabah akan membeli jasa manfaat jasa dari penyedia jasa kemudian nasabah membayar biaya ujrah atau fee sebagai kompensasi atas manfaat yang diperolehnya secara angsuran atau sekaligus sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian.

Penetapan ujrah keuntungan bagi bank ini dilakukan secara negosiasi antara bank dengan nasabah sehingga lebih kompetitif. Angsuran yang disepakati pada awal pembiayaan ini tidak akan berubah selama jangka waktu pembiayaan. Meskipun terjadi fluktuasi suku bunga di pasar konvensional, angsuran pembiayaan multijasa ini tidak berubah. Sehingga nasabah akan merasa tenang karena tidak ada risiko naiknya angsuran bulanan.

Wassalaamualaikum wr wb
 

Salahuddin El Ayyubi

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/10/05/lskyqj-apakah-bedanya-produk-dan-akad-syariah

 

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

 

Perilaku yang Membuat ‘Ramadhan’ Kita Sia-Sia

 Oleh: Salahuddin El Ayyubi Lc MA

Tidak terasa hampir sebulan Ramadhan telah berlalu. Kenangan manis keakraban ruh dengan ibadah masih segar di ingatan.

Rasanya baru kemarin kita merasakan nikmatnya berbuka, ramainya mesjid  dengan sholat tarawih, bisingnya suara yang berlomba mengkhatamkan Alquran sebanyak mungkin, ringannya tangan bersedekah dan memberi, serta kebaikan-kebaikan yang lain.

Namun seiring datangnya Ied, semua perilaku dan kebiasaan baik itu juga ikut menghilang. Kebaikan berubah menjadi keburukan. Amal soleh menjadi dosa. Mata dan telinga kembali bebas menikmati yang dilarang. Mulut kelu untuk mengaji tetapi leluasa membicarakan aib orang lain. Kaki begitu berat melangkah ke mesjid untuk berjama’ah. Tangan menjadi kaku untuk berbagi.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (An-Nahl ayat 92)

Ayat ini sepertinya menyindir kita yang kembali kepada keburukan setelah kebaikan, maksiat setelah ta’at, kufur setelah syukur, syirik setelah iman. Allah menyindir kita akan janji-janji yang telah diikrarkan namun diingkari, menyindir semangat ibadah yang dulu ada namun telah pudar, menyindir taubat yang pernah terucap namun sekarang hilang tak berbekas. Hilang dengan perginya Ramadhan.

Allah SWT menagih janji kita, “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah, apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu”). (An-Nahl ayat 92).

Nabi SAW pun mengingatkan: “Tidak beragama bagi yang tidak menepati janjinya. Tidak beriman bagi yang tidak menjaga amanahnya” (HR. Dailami)

Kelemahan menjaga janji, ketidakmampuan memegang amanah adalah satu tanda kemunafikan. Ibadah kita selama bulan Ramadhan ternyata sia-sia saja dan tidak mengantarkan kita sama sekali menjadi pribadi yang jujur, pribadi yang setia, pribadi yang komitmen. Namun sebaliknya membuat kita menjadi pribadi yang munafik.

“al-Qalil da’im khayrun min katsir al-munqati’”. Sesuatu yang sedikit tapi terus menerus adalah lebih baik daripada banyak namun terputus-putus”. Ternyata kita perlu kekuatan istiqomah. Kekuatan untuk berkomitmen. Kekuatan untuk jujur kepada diri dan kepada Allah SWT.

Allah SWT mewanti-wanti kita untuk tidak terjebak kepada perilaku yang demikian. Perilaku merusak amal-amal kebaikan dan menukarnya dengan amal-amal kejahatan. Kebaikan-kebaikan Ramadhan seharusnya  menjadi kebaikan-kebaikan abadi. Kebaikan-kebaikan yang kita harap masih melekat dalam diri saat ruh berpisah dengan jasad. Kebaikan-kebaikan yang nantinya mengantarkan pada kebahagiaan hakiki yaitu berjumpa dengan Allah SWT seperti yang dijanjikan Rasulullah SAW: “…Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya…” (HR Muslim). Semoga.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/09/27/ls5kr9-perilaku-yang-membuat-ramadhan-kita-siasia

Apa Hukumnya Membeli Barang Secara Kredit

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr.wb

Saya mau tanya apa hukumnya meminjam uang di Bank dan membeli suatu barang dengan cara kredit, karena yang saya tahu keduanya ada bunganya. Contoh pinjaman dari Bank itu untuk membeli barang-barang (secara kredit) untuk keperluan memulai usaha.
Terimakasih

Wassalam – Rosyadi
 

Jawaban :           

Wa’alaikumussalam wr wb

Pak Rosyadi yang dirahmati Allah, meminjam uang di Bank konvensional tentu saja tidak lepas dari instrumen riba atau bunga. Padahal, sebagai seorang muslim kita dilarang untuk terlibat dalam perkara riba. Hadis Rasulullah SAW sudah sangat jelas menerangkan hal tersebut.
Dari Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba, yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya. Dia berkata, “Mereka sama.” (HR Muslim)

Kredit Barang

Membeli barang dengan kredit pada dasarnya dibolehkan dalam Islam. Al-Qaradawi dalam bukunya Halal dan Haram mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan, bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya. Namun demikian, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi: pertama; harganya tetap dan disepakati diawal transaksi, kedua; tidak boleh ada penambahan jika terjadi keterlambatan pembayaran, ketiga; pembayaran cicilan serta tempo pembayaran disepakati kedua belah pihak agar terhindar dari praktek gharar.

Persoalannya menjadi berbeda ketika kita melakukan kredit melalui bank konvensional yang sekali lagi menggunakan instrumen riba. Jika dulu kita masih kesulitan mendapatkan pelayanan bank syariah, maka sekarang dengan jumlah bank syariah yang semakin banyak rasanya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tetap setia pada bank konvensional.

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/08/25/lqgysi-apa-hukumnya-membeli-barang-secara-kredit

 

 

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

Membalas Keburukan dengan Kebaikan

Oleh Salahuddin El Ayyubi MA

Suatu ketika pelayan Imam Hasan Al-Bashri menyampaikan bahwa seseorang telah menjelek-jelekkan namanya. Mendengar hal tersebut, sang Imam kemudian memanggil pelayan dan memintanya untuk memberikan kurma pada orang tersebut. Pelayan berkata, “wahai imam, bukankah dia telah menjelekkanmu di hadapan orang banyak. Tapi kenapa engkau malah memberinya kurma?” Sang imam pun menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku memberikan hadiah bagi orang yang telah membuat diriku di sisi Allah SWT”.

“Apa maksud semua ini wahai Jibril?” Tanya Rasul SAW pun ketika turun ayat: “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (Al-A’raf: 199).  Jibril pun menjawab, “Wahai Rasul Allah, sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu untuk memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang pelit kepadamu, dan menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya denganmu”.

Jadilah pribadi yang tenang dan menenangkan. Bukan pribadi yang gelisah dan penuh amarah. Tenang bukan berarti tidak mampu, tenang bukan berarti kalah, tenang bukan berarti lambat. Tenang adalah seni menyampaikan kritikan dengan bahasa yang lembut, tenang adalah penyampaian fakta keras dengan cara yang lembut, tenang adalah penolakan berat dengan cara yang ringan. Itulah yang ditunjukkan oleh Rasul SAW ketika penduduk Thaif melempari beliau dengan batu. Beliau malah berdoa, “Allahummahdii qawmii fainnahum laa ya’lamuun” (Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku ini, karena sesungguhnya mereka tidak tahu apa-apa).

Memang bukan perkara yang mudah untuk menahan marah atau emosi. Apalagi kemudian membalasnya dengan hal yang sebaliknya. Tidak semua orang mampu melakukannya. Sehingga ketika Abdullah bin Amr menanyakan hal apakah yang bisa menjauhkannya dari murka Allah? Rasulullah menjawab: “Laa taghdhab (Janganlah kau marah)” (HR Imam Ahmad)

Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang keutamaan puasa, Rasulullah SAW bersabda: “…Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah, “Saya sedang berpuasa. Demi Zat yang jiwaku berada di genggaman Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi….”.  (HR Bukhari).
Mulut yang senantiasa mengucapkan kata-kata indah bukan kata-kata kotor, kata-kata yang menyejukkan bukan yang menyakiti, kata-kata yang menenangkan bukan yang menggelisahkan, kata-kata yang memaafkan bukan yang mendendam, kata-kata yang memuliakan bukan yang menghinakan.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (Surah Fussilat: 34-35).

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/24/lqejr9-membalas-keburukan-dengan-kebaikan

Membedakan Uang Berdasarkan Fisik Uang

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr.wb

Di Indonesia banyak berkembang praktek membedakan uang berdasarkan fisik uang, bukan Berdasarkan nilai uang. Contoh: uang kertas 100 USD mulus dihargai 900.000 rupiah, uang kertas 100 USD terlipat dihargai 890.000 rupiah, dan uang kertas 100 USD lusuh dihargai 850.000 rupiah. Bagaimana pendapatnya mengenai transaksi seperti ini? haram atau halal?
Mohon penjelasan. Terimakasih

Wassalam – Palwono

Jawaban :   

Wa’alaikumussalam wr wb

Pak Palwono yang dirahmati Allah, di Indonesia, USD Banknotes atau uang kertas dolar amerika diperlakukan seperti “benda keramat”. Penyebabnya karena USD banknotes itu dianggap bukan hanya sekedar mata uang, tetapi juga dianggap sebagai komoditi. Akibatnya, kondisi fisik mata uang itu harus bagus untuk mendapatkan nilai tukar yang kompetitif. Kondisi lecek, terlipat, jamuran dan lain sebagainya berpengaruh terhadap nilai komoditi tersebut.

Perlakuan terhadap “dolar cacat” ini bukan lah berasal dari regulator, akan tetapi dibentuk oleh mekanisme pasar. Hal ini dikarenakan, pertukaran mata uang dolar Amerika di Indonesia berjalan lebih lambat dibandingkan negara lain seperti Singapura misalnya. Alhasil, nasabah tidak mau menerima dolar dengan keadaan yang jelek. Bank atau Money Changer pun kemudian melakukan hal yang sama.

Dalam Islam, salah satu syarat sahnya jual beli mata uang atau al-Sarf adalah adanya persamaan jenis dan nilai. Jika dilakukan dengan mata uang sejenis, nilainya harus sama dan secara tunai. Jika mata uangnya berlainan jenisnya, jual beli dilakukan dengan nilai tukar atau kurs yang berlaku saat transaksi dilakukan dan secara tunai. Rasulullah SAW pernah bersabda: “(Jual beli atau pertukaran) Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kismis dengan kismis, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, hendaklah dengan kadar yang sama (timbangan), dan hendaklah beserta penyerahan bersama (oleh kedua-dua pihak). Jika berlainan jenis, maka berjual belilah sesuka kalian, namun harus secara kontan” (HR Muslim)

Organization of the Islamic Conference (OIC) dalam sidang ke-3 yang diadakan di Amman, Jordan pada 8-13 Safar 1407H bersamaan 11-16 Oktober 1986 telah memutuskan resolusi yang berbunyi: Berkaitan hukum mata uang kertas, adalah mata uang yang mempunyai sifat harga/nilai (al-thamaniyyah) yang sempurna, dan  mengambil hukum syara’ yang telah ditetapkan pada emas dan perak.

Berdasarkan hal di atas, maka membedakan nilai tukar mata uang berdasarkan fisiknya adalah tidak layak untuk dilakukan dengan alasan apapun.
Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/08/19/lq60vx-membedakan-uang-berdasarkan-fisik-uang

Bekerja di Sekuritas, Haramkah Gaji yang Saya Terima?

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr.wb

Saya seorang karyawati di sebuah perusahaan sekuritas (perantara perdagangan saham) yang dalam bisnisnya juga menjalankan sistem pemberian dan pengenaan bunga. Pertanyaan saya apa hukumnya gaji yang saya terima? apakah haram?

Mohon jawabannya. Terimakasih

Wassalam

Syarifa Kurnia

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Bu Syarif yang dirahmati Allah, dalam Al-Qur’an disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”(QS. 2:278-279).

Ayat di atas menunjukkan bahwa sistem ekonomi islam seharusnya berdiri dalam posisi memerangi riba dan menganggap itu sebagai dosa besar yang menghilangkan keberkahan sekaligus mendatangkan bencana di dunia dan akherat. Oleh itu, kita diperintahkan untuk melawan riba sebagai satu bentuk dosa walaupun hanya sebatas kata dan laku  yang tidak rela dengan kemaksiatan tersebut.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya. Dan beliau saw bersabda, mereka itu sama“. (HR. Muslim). Artinya, yang diharamkan berkaitan dengan riba adalah: pemberi riba, penerima riba, saksi dan pencatat. Sekiranya diluar daripada itu seperti satpam, cleaning service dan sejenisnya maka tidak menjadi haram.

Memang, ada fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang tidak bolehnya bekerja di lembaga yang menjalankan sistem riba karena masuk dalam kategori tolong menolong dalam perbuatan dosa. (Kitabut Da’wah, Juz I, hal.142-143). Namun demikian, masalah riba ini sudah masuk ke dalam sistem ekonomi dan kegiatan keuangan kita sehingga merupakan bencana umum seperti mana hadis Nabi SAW: “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorang pun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia terkena debunya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Keadaan seperti ini tentu saja tidak akan berubah hanya dengan melarang seseorang bekerja di lembaga keuangan yang mempraktekkan riba. Juga tidak dapat diperbaiki secepat membalik tangan, tetapi harus bertahap sebagaimana Islam mengharamkan riba dan khamr secara bertahap. Dr. Yusuf Qardhawi berpendapat, tidak mengapa seorang muslim menerima (melakukan) pekerjaan tersebut – meskipun hatinya tidak rela – dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diridhoi agama dan hatinya. Hal ini tetap memperhatikan tingkat darurat pada setiap orang yang berbeda-beda. Firman Allah SWT: “…..tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 2:173. (Fatwa-fatwa Kontemporer, juz I hal 766 – 770)

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah bila seseorang yang bekerja di lembaga konvensional yang melakukan praktek riba tiba-tiba berhenti dan kehilangan sumber penghasilan, siapa yang akan menghidupi keluarganya? Tentu saja ini menjadi masalah baru yang harus diselesaikan. Oleh itu, sekiranya ada pekerjaan lain yang halal dan pasti, maka wajiblah dia untuk segera berhenti  dan insya Allah akan dipermudah Allah SWT. Tentu saja, kaidah “akhaf dararain” yakni mengambil sikap yang resikonya paling kecil dari dua macam bahaya atau mudarat bisa kita gunakan disini.

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi
Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB

Kirimkan pertanyaan Anda ke: syariah@rol.republika.co.id

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/06/30/lnlinn-bekerja-di-sekuritas-haramkah-gaji-yang-saya-terima