Salahuddin El Ayyubi

Bulan januari 1966 di Nigeria terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Jenderal Jon Ironzi dan beberapa perwira lain yang beragama Kristen dari suku Ibo terhadap pemerintahan Abu Bakar Tawafa Balewa dan Ahmadu Bello. Keduanya adalah seorang Muslim.

Menurut catatan, pada masa kepemimpinan mereka satu suku Afrika yang beranggotakan 60.000 penduduk sekaligus pindah memeluk Islam. Tentu saja hal itu membangkitkan kebencian pada diri musuh-musuh Islam. Dihasutlah suku-suku lain yang beragama Kristen agar membunuh pemimpin-pemimpin Islam dan mengadakan kudeta yang amat mengerikan. Abu Bakar Tafawa Balewa dan Ahmadu Bello mati dibunuh dengan keji, bahkan istrinya turut dibunuh bersama dia dan rumahnya dibakar habis. Demikianlah hancurlah satu pemerintahan yang berdiri atas dasar demokrasi dan diganti dengan diktator militer.

Cerita tidak berhenti disitu saja. Berselang enam bulan dari kudeta, pemberontakan timbul kembali yang dipicu oleh dendam suku Hausa terhadap suku Ibo. Pemberontakan ini dipimpin oleh Kolonel Jacob Gowon dari suku Hausa. Jacob Gowon demi memelihara kekuasaan yang diperolehnya tetap menjaga hati golongan kaum muslimin yang mayoritas (60%) dalam negara itu. Dan kaum muslimin yang banyak dibunuh pada zaman Ironzi menyokong Jacob Gowon.

Melihat keadaan yang demikian maka penyokong-penyokong kekacauan dari luar tadi, yang sangat benci akan adanya kekuasaan Islam di negara itu, langsung menyokong suatu gerakan pemisahan diri yang terkenal dengan nama Biafra, yang meletus pada tanggal 30 Mei 1967. Tiga tahun lamanya republik boneka yang mendapat sokongan dari negeri-negeri Kristen, bahkan dari Paus sendiri mengacau-balaukan negeri itu, sampai akhirnya dapat dipatahkan dan Nigeria bersatu kembali.

Kemudian kita lihat pula bagaimana golongan minoritas Islam dikejar-kejar dan dibunuhi di Filipina. Bahkan tentara pemerintah sendiri yang diperintahkan ke Selatan buat mengembalikan keamanan, telah turut menembaki kaum muslimin dan menghancurkan masjid-masjidnya dan merampasi tanah-tanahnya.

Bahkan sebuah negara Islam yang sebelumnya tidak nampak dalam peta dunia tiba-tiba kemudian disisipkan ditengah-tengah negara-negara jazirah Arab. Malah Madinah Munawwarah sebagai tempat peristirahatan Nabi Muhammad saw mereka cadangkan masuk dalam wilayah kekuasaan mereka.

Sejak semula berbagai usaha telah diusahakan untuk menghilangkan kekuatan Islam di negeri manapuni. Dan kita kaum muslimin, yang dalam diri kita mengalir darah seorang muslim yang diwarisi oleh pendahulu kita terus berusaha berjuang mempertahankan agar Islam itu tetap menjadi sendi kekuatan bangsa ini.

Belum hilang rasanya dari ingatan mereka akan mimpi buruk Perang Salib. Dimulkan dari Angkatan Perang Salib I (1097-1099) dengan membawa lambang perang “Deus La Volts”; Demikianlah kehendak Tuhan; dan sabda Paus : “bahwasanya barangsiapa yang bersedia masuk dalam angkatan perang suci itu, akan diampunilah sekalian dosanya, baik kecil ataupun besar”, harus menelan kekalahan di hadapan pasukan Salahuddin Al Ayyubi. Demikian pula Angkatan Perang Salib II (1147-1149) dan Angkatan Perang Salib III (1189-1192) harus tunduk di depan pasukan Pahlawan Pembebas al-Quds itu.

Hari ini, kalau anda menengok perbatasan antara Palestina dan Israel ada sebuah tembok yang tinggi memisahkan bagaikan tembok Berlin yang memisahkan Jerman barat dan timur. Negara yang anda kenal dengan Israel pada masa lalu adalah wilayah milik kaum Muslimin yang akhirnya direbut sedikit demi sedikit oleh Amerika dan Rusia untuk adik tersayang Israel.

Sebagai seorang muslim kita mempunyai keyakinan, bahwa negeri itu akan kembali ketangan kaum Muslimin, lambat ataupun cepat. Negeri yang di dalamnya terdapat Masjidil Aqsha, masjid yang dimuliakan Allah di muka bumi Nya.

Kalau anda memiliki kesempatan untuk berziarah ke sana, ingatlah bahwa saat pasukan Turki di usir dari Palestina tahun 1916 dan Inggris masuk dibawah pimpinan Marsekal Lord Elenby, keluar dari mulut si Marsekal itu : “Baru pada hari inilah berhenti perang Salib”

Atau barangkali anda sempat ke kuburan Salahuddin Al Ayyubi di Damaskus, hendaklah anda ingat juga bahwa setelah Raja Faisal di Syria kalah menerima serangan Perancis dibawah Jenderal Goureaud pada 24 Juli 1920, terloncat pula dari mulutnya : “Hai Salahuddin! Ini saya telah datang…! Apalah jawab tulang dalam kubur…!

Semoga kenang-kenangan ini membangkitkan kesadaran kita, bahwa semangat perang Salib itu masih ada walaupun dia telah berubah dalam berbagai bentuk dan rupa dan kita mesti memenangkan pertempuran itu, dengan izin Allah tentunya**