Klinik Syariah

Hukum Sogok dan Implikasinya Terhadap Akidah Seorang Muslim

Rabu, 21 Desember 201

Assalammu’alaikum

Saya berbahagia sekali dengan isi rubrik ini, dimana banyak masalah yang dapat saya peroleh jawabannya. Kemudian, dalam kehidupan kita sehari hari akhir-akhir ini, masalah sogok-menyogok atau suap menyuap sudah sangat merajalela. Sudah masuk ke semua lini. Menurut isu yang berkembang, hampir tidak ada lagi masyarakat yang terlepas dari bencana ini, mulai tingkatan masyarakat paling rendah hingga ke paling tinggi terlibat ataupun terpercik akibat dari kejahatan itu.

Saya ingin bertanya, apa hukum risywah (sogok) dan apa implikasinya terhadap akidah seorang muslim serta apa akibat yang timbul karenanya di dalam kehidupan bermasyarakat? Demikian, dan atas perhatian serta jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.
terima kasih..

Wassalam

Qeisha


Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Mba Qeisha yang dirahmati Allah, betul apa yang mba sampaikan tentang bencana risywah atau sogok ini. Ia sudah dianggap biasa dengan alasan kondisinya memang memungkinkan untuk melakukannya, juga karena tidak ada sanksi yang tegas bagi penyogok atau yang disogok. Akibatnya, budaya jelek ini merata dari tingkat paling rendah sampai paling tinggi dalam strata sosial.

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke tempat orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarnya, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Maka kata Abdullah kepada orang-orang Yahudi itu: “Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu kami tidak akan menerimanya.” (H.R. Malik).

Di sebuah hadis disebutkan, Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara.” (H.R. Ahmad dan Hakim).

Dari dua hadis di atas, nampak jelas bahwa tindakan sogok menyogok ini masuk dalam kategori haram dan pelakunya mendapatkan laknat. Bagi seorang muslim tentu saja berusaha untuk terhindar dari melakukan perbuatan yang diharamkan oleh Allah SWT dan Rasul Nya.

Implikasi atau akibat yang bisa ditimbulkan dari budaya suap ini ditengah-tengah masyarakat tentu saja adalah kerusakan masyarakat itu sendiri. Paling tidak ada dua hal mendasar yang mengapa masyarakat kita doyan melakukan perbuatan ini: pertama; pemikiran yang berkembang sekarang ini adalah sekulerisme, asas manfaat, dan kenikmatan jasmani (permisivisme). Wajar saja kalau sekarang ini orang lebih suka kongkalingkong karena memang dikondisikan demikian. Kedua; Budaya suap menyuap dan tindakan maksiat lainnya, seperti korupsi, manipulasi, pergaulan bebas terlahir dari masyarakat yang perasaannya tidak islami, yang individunya tidak menaruh rasa benci terhadap perbuatan-perbuatan tersebut.

Masyarakat yang tumbuh dan berkembang dengan keadaan seperti ini, hanya akan membawa kepada kerusakan dan kehancuran massal. Masyarakat yang terlahir dengan akhlak untuk menyelamatkan dan mendapatkan keuntungan sendiri, walaupun harus mengorbankan kepentingan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu makan harta benda kamu di antara kamu dengan batil dan kamu ajukan perkara itu kepada penguasa (hakim) dengan maksud supaya kamu makan sebahagian dari harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 188).

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.i

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/12/20/lwhz98-hukum-sogok-dan-implikasinya-terhadap-akidah-seorang-muslim1

 

Haramkah Hadiah Pertandingan yang Berasal dari Uang Iuran

Senin, 24 Oktober 2011 16:00 WIB

Pertanyaan :

Assalammu’alaikum Ustad…
Bagaimana hukumnya jika kita harus membayar pendaftaran dalam sebuah pertandingan dimana uang tersebut biasanya dipungut untuk biaya penyelenggaran dan hadiah. Misalkan, pertandingan Voly dimana team perserta dipungut biaya 100ribu/team dgn hadiah nantinya sebuah piala tetap. Mohon penjelasan mengenai hadiah ini, karena kami takut nantinya menjadi judi. Apakah juga membeli produk makanan yang menjanjikan hadiah juga diperbolehkan?
Mohon pencerahannya

Wassalam
Hamba Allah

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Pertandingan Voly di atas adalah salah satu bentuk pertandingan yang dilarang dalam Islam. Yaitu apabila taruhan tersebut berasal dari kedua belah pihak atau lebih (uang iuran) kemudian pihak yang menang akan mendapatkan hadiah tertentu.

Jumhur fuqaha Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah sepakat akan pengharamannya. Disebutkan dalam Hasyiah Al-Kharsyi (10/191): “apabila setiap peserta mengeluarkan uang mereka dalam jumlah yang sama atau tidak, kemudian bagi yang menang maka semua uang itu menjadi miliknya. Maka ini tidak dibolehkan dan tidak diperselisihkan lagi”.

Sebab pengharamannya tentu saja karena mirip dengan qimar atau judi yaitu dimana setiap pihak yang bertanding memiliki kemungkinan kalah atau menang. Berjudi tentu saja dilarang didalam Islam. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Al-Maidah: 90)

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, bahwa sahabat Anas RA pernah ditanya: apakah kamu pernah bertaruh di zaman Rasulullah SAW? Apakah Rasulullah SAW sendiri juga pernah bertaruh? Maka jawab Anas: “Ya! Demi Allah, sungguh ia (Rasulullah SAW) pernah bertaruh terhadap suatu kuda yang disebut sabhah (kuda pacuan), maka dia dapat mengalahkan orang lain, ia sangat tangkas dalam hal itu dan mengherankannya.” (Riwayat Ahmad 13689, Ad-Darimi 2430, Daruqutni 4/301 )

Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitab beliau “Halal dan Haram dalam Islam” memberikan komentar mengenai hadis tersebut bahwa taruhan yang dibenarkan atau suatu hadiah yang dikumpulkan bukanlah dari orang-orang yang berpacu saja atau dari salah satunya saja, tetapi dari orang-orang lainnya. Adapun hadiah yang dikumpulkan dari masing-masing yang berpacu, kemudian siapa yang unggul itulah yang mengambilnya, maka hadiah semacam itu termasuk judi yang dilarang. Dan Nabi sendiri menamakan pacuan kuda semacam ini, yakni yang disediakan untuk berjudi, dinamakan Kuda Syaitan. Harganya adalah haram, makanannya haram dan menungganginya pun haram juga. (Riwayat Ahmad 16645, Al-Haetsami 5/260).

Dan ia bersabda: “Kuda itu ada tiga macam: kuda Allah, kuda manusia dan kuda syaitan. Adapun kuda Allah ialah kuda yang disediakan untuk berperang di jalan Allah, maka makanannya, kotorannya, kencingnya dan apanya saja – mempunyai beberapa kebaikan. Adapun kuda syaitan, yaitu kuda yang dipakai untuk berjudi atau untuk dibuat pertaruhan, dan adapun kuda manusia, yaitu kuda yang diikat oleh manusia, ia mengharapkan perutnya (hasilnya), sebagai usaha untuk menutupi kebutuhannya. (Riwayat Ahmad 3756, 3757, Majma’ Zawa’id 261)

Adapun membeli produk yang menjanjikan hadiah apabila niatnya adalah untuk mengejar hadiah yang dijanjikan sehingga membuat seseorang itu membeli barang tersebut diluar kebutuhannya, bahkan diluar kemampuannya maka hal itu menyerupai perbuatan mengundi nasib yang telah dilarang oleh Allah SWT pada ayat diatas.

Wassalaamualaikum wr wb
Salahuddin El Ayyubi

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/10/21/lteqwd-haramkah-hadiah-pertandingan-yang-berasal-dari-uang-iuran

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

 

Apakah Bedanya Produk dan Akad Syariah?

Rabu, 05 Oktober 2011

Pertanyaan :

Assalammu’alaikum

Saya ingin menanyakan apakah ada produk semisal murabahah di bank syariah tapi dalam bentuk jasa, misal untuk biaya pendidikan atau pernikahan? kalau ada, itu termasuk kedalam jenis akad apa? Terima kasih..

Wassalam – Wila Yulia
Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Mba Wila yang dirahmati Allah, sebelumnya kita harus membedakan terlebih dahulu apa itu produk dan apa itu akad. Akad adalah kesepakatan tertulis antara Bank Syariah atau Unit Usaha Syariah dan pihak lain yang memuat adanya hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak sesuai dengan prinsip syariah. Contohnya akad murabahah, mudharabah, ijarah dan lain sebagainya. Sementara yang dimaksud dengan produk adalah berbagai macam fasilitas yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan nasabah seperti misalnya Tabungan Qurban iB, Tabungan rencana iB, KPR iB, Pembiayaan Koperasi iB, Transfer iB, pembiayaan konstruksi iB, dll.

Termasuk pula produk pembiayaan multijas yang merupakan pola  dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. Sepertimana yang tercantum dalam Fatwa DSN-MUI No. 44/DSN MUI/VII/2004 tentang pembiayaan multijasa, Fatwa DSN No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang pembiayaan ijarah juga menggunakan Fatwa DSN No: 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang kafalah.

Produk pembiayaan ini dapat digunakan untuk biaya pendidikan, biaya kesehatan, biaya naik haji atau umrah, termasuk pula untuk biaya pernikahan. Dalam pembiayaan dimaksud, bank syariah memperoleh fee dari imbalan jasa (ujrah) sesuai dengan kesepakatan awal, yang dinyatakan dalam bentuk nominal, bukan dalam bentuk presentase.

Dalam pembiayaan multijasa ini bank syariah atas permintaan nasabah akan membeli jasa manfaat jasa dari penyedia jasa kemudian nasabah membayar biaya ujrah atau fee sebagai kompensasi atas manfaat yang diperolehnya secara angsuran atau sekaligus sesuai dengan kesepakatan dalam perjanjian.

Penetapan ujrah keuntungan bagi bank ini dilakukan secara negosiasi antara bank dengan nasabah sehingga lebih kompetitif. Angsuran yang disepakati pada awal pembiayaan ini tidak akan berubah selama jangka waktu pembiayaan. Meskipun terjadi fluktuasi suku bunga di pasar konvensional, angsuran pembiayaan multijasa ini tidak berubah. Sehingga nasabah akan merasa tenang karena tidak ada risiko naiknya angsuran bulanan.

Wassalaamualaikum wr wb
 

Salahuddin El Ayyubi

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/10/05/lskyqj-apakah-bedanya-produk-dan-akad-syariah

 

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

 

Apa Hukumnya Membeli Barang Secara Kredit

Kamis, 25 Agustus 2011

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr.wb

Saya mau tanya apa hukumnya meminjam uang di Bank dan membeli suatu barang dengan cara kredit, karena yang saya tahu keduanya ada bunganya. Contoh pinjaman dari Bank itu untuk membeli barang-barang (secara kredit) untuk keperluan memulai usaha.
Terimakasih

Wassalam – Rosyadi
Jawaban :           

Wa’alaikumussalam wr wb

Pak Rosyadi yang dirahmati Allah, meminjam uang di Bank konvensional tentu saja tidak lepas dari instrumen riba atau bunga. Padahal, sebagai seorang muslim kita dilarang untuk terlibat dalam perkara riba. Hadis Rasulullah SAW sudah sangat jelas menerangkan hal tersebut.
Dari Jabir bin Abdillah berkata bahwa Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba, yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya. Dia berkata, “Mereka sama.” (HR Muslim)

Kredit Barang

Membeli barang dengan kredit pada dasarnya dibolehkan dalam Islam. Al-Qaradawi dalam bukunya Halal dan Haram mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan, bahkan Rasulullah SAW sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya. Namun demikian, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi: pertama; harganya tetap dan disepakati diawal transaksi, kedua; tidak boleh ada penambahan jika terjadi keterlambatan pembayaran, ketiga; pembayaran cicilan serta tempo pembayaran disepakati kedua belah pihak agar terhindar dari praktek gharar.

Persoalannya menjadi berbeda ketika kita melakukan kredit melalui bank konvensional yang sekali lagi menggunakan instrumen riba. Jika dulu kita masih kesulitan mendapatkan pelayanan bank syariah, maka sekarang dengan jumlah bank syariah yang semakin banyak rasanya tidak ada lagi alasan bagi kita untuk tetap setia pada bank konvensional.

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/08/25/lqgysi-apa-hukumnya-membeli-barang-secara-kredit

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

 

 

Membedakan Uang Berdasarkan Fisik Uang

Jumat, 19 Agustus 2011

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr.wb

Di Indonesia banyak berkembang praktek membedakan uang berdasarkan fisik uang, bukan Berdasarkan nilai uang. Contoh: uang kertas 100 USD mulus dihargai 900.000 rupiah, uang kertas 100 USD terlipat dihargai 890.000 rupiah, dan uang kertas 100 USD lusuh dihargai 850.000 rupiah. Bagaimana pendapatnya mengenai transaksi seperti ini? haram atau halal?
Mohon penjelasan. Terimakasih

Wassalam – Palwono

Jawaban :   

Wa’alaikumussalam wr wb

Pak Palwono yang dirahmati Allah, di Indonesia, USD Banknotes atau uang kertas dolar amerika diperlakukan seperti “benda keramat”. Penyebabnya karena USD banknotes itu dianggap bukan hanya sekedar mata uang, tetapi juga dianggap sebagai komoditi. Akibatnya, kondisi fisik mata uang itu harus bagus untuk mendapatkan nilai tukar yang kompetitif. Kondisi lecek, terlipat, jamuran dan lain sebagainya berpengaruh terhadap nilai komoditi tersebut.

Perlakuan terhadap “dolar cacat” ini bukan lah berasal dari regulator, akan tetapi dibentuk oleh mekanisme pasar. Hal ini dikarenakan, pertukaran mata uang dolar Amerika di Indonesia berjalan lebih lambat dibandingkan negara lain seperti Singapura misalnya. Alhasil, nasabah tidak mau menerima dolar dengan keadaan yang jelek. Bank atau Money Changer pun kemudian melakukan hal yang sama.

Dalam Islam, salah satu syarat sahnya jual beli mata uang atau al-Sarf adalah adanya persamaan jenis dan nilai. Jika dilakukan dengan mata uang sejenis, nilainya harus sama dan secara tunai. Jika mata uangnya berlainan jenisnya, jual beli dilakukan dengan nilai tukar atau kurs yang berlaku saat transaksi dilakukan dan secara tunai. Rasulullah SAW pernah bersabda: “(Jual beli atau pertukaran) Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kismis dengan kismis, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, hendaklah dengan kadar yang sama (timbangan), dan hendaklah beserta penyerahan bersama (oleh kedua-dua pihak). Jika berlainan jenis, maka berjual belilah sesuka kalian, namun harus secara kontan” (HR Muslim)

Organization of the Islamic Conference (OIC) dalam sidang ke-3 yang diadakan di Amman, Jordan pada 8-13 Safar 1407H bersamaan 11-16 Oktober 1986 telah memutuskan resolusi yang berbunyi: Berkaitan hukum mata uang kertas, adalah mata uang yang mempunyai sifat harga/nilai (al-thamaniyyah) yang sempurna, dan  mengambil hukum syara’ yang telah ditetapkan pada emas dan perak.

Berdasarkan hal di atas, maka membedakan nilai tukar mata uang berdasarkan fisiknya adalah tidak layak untuk dilakukan dengan alasan apapun.
Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id

 

Bekerja di Sekuritas, Haramkah Gaji yang Saya Terima?

Kamis, 30 Juni 2011

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr.wb

Saya seorang karyawati di sebuah perusahaan sekuritas (perantara perdagangan saham) yang dalam bisnisnya juga menjalankan sistem pemberian dan pengenaan bunga. Pertanyaan saya apa hukumnya gaji yang saya terima? apakah haram?

Mohon jawabannya. Terimakasih

Wassalam

Syarifa Kurnia

Jawaban :

Wa’alaikumussalam wr wb

Bu Syarif yang dirahmati Allah, dalam Al-Qur’an disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”(QS. 2:278-279).

Ayat di atas menunjukkan bahwa sistem ekonomi islam seharusnya berdiri dalam posisi memerangi riba dan menganggap itu sebagai dosa besar yang menghilangkan keberkahan sekaligus mendatangkan bencana di dunia dan akherat. Oleh itu, kita diperintahkan untuk melawan riba sebagai satu bentuk dosa walaupun hanya sebatas kata dan laku  yang tidak rela dengan kemaksiatan tersebut.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya. Dan beliau saw bersabda, mereka itu sama“. (HR. Muslim). Artinya, yang diharamkan berkaitan dengan riba adalah: pemberi riba, penerima riba, saksi dan pencatat. Sekiranya diluar daripada itu seperti satpam, cleaning service dan sejenisnya maka tidak menjadi haram.

Memang, ada fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz tentang tidak bolehnya bekerja di lembaga yang menjalankan sistem riba karena masuk dalam kategori tolong menolong dalam perbuatan dosa. (Kitabut Da’wah, Juz I, hal.142-143). Namun demikian, masalah riba ini sudah masuk ke dalam sistem ekonomi dan kegiatan keuangan kita sehingga merupakan bencana umum seperti mana hadis Nabi SAW: “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorang pun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia terkena debunya.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Keadaan seperti ini tentu saja tidak akan berubah hanya dengan melarang seseorang bekerja di lembaga keuangan yang mempraktekkan riba. Juga tidak dapat diperbaiki secepat membalik tangan, tetapi harus bertahap sebagaimana Islam mengharamkan riba dan khamr secara bertahap. Dr. Yusuf Qardhawi berpendapat, tidak mengapa seorang muslim menerima (melakukan) pekerjaan tersebut – meskipun hatinya tidak rela – dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diridhoi agama dan hatinya. Hal ini tetap memperhatikan tingkat darurat pada setiap orang yang berbeda-beda. Firman Allah SWT: “…..tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 2:173. (Fatwa-fatwa Kontemporer, juz I hal 766 – 770)

Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah bila seseorang yang bekerja di lembaga konvensional yang melakukan praktek riba tiba-tiba berhenti dan kehilangan sumber penghasilan, siapa yang akan menghidupi keluarganya? Tentu saja ini menjadi masalah baru yang harus diselesaikan. Oleh itu, sekiranya ada pekerjaan lain yang halal dan pasti, maka wajiblah dia untuk segera berhenti  dan insya Allah akan dipermudah Allah SWT. Tentu saja, kaidah “akhaf dararain” yakni mengambil sikap yang resikonya paling kecil dari dua macam bahaya atau mudarat bisa kita gunakan disini.

Wassalaamualaikum wr wb

Salahuddin El Ayyubi
Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB

Kirimkan pertanyaan Anda ke: syariah@rol.republika.co.id

http://www.republika.co.id/berita/konsultasi/klinik-syariah/11/06/30/lnlinn-bekerja-di-sekuritas-haramkah-gaji-yang-saya-terima